neuroscience di balik tren tiktok
sains tentang pengulangan yang tidak membosankan
Malam makin larut, tapi mata kita masih terpaku pada layar bercahaya. Jemari kita secara otomatis menggeser layar ke atas. Satu video, dua video, puluhan video terlewati. Anehnya, kita mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang. Kita melihat gerakan tari yang itu-itu saja. Atau sound komedi yang kita sudah hafal persis di mana letak punchline-nya. Secara logika, kita pasti bosan, bukan? Tapi faktanya, kita betah berjam-jam. Pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir, kenapa otak kita seolah menolak untuk merasa bosan saat melihat tren yang terus diulang di TikTok? Mari kita bedah misteri ini bersama-sama.
Sepanjang sejarah, manusia sebenarnya punya hubungan cinta dan benci dengan pengulangan. Di satu sisi, leluhur kita menggunakan pengulangan untuk bertahan hidup. Ritme tabuhan drum yang berulang di suku kuno menciptakan ikatan sosial dan rasa aman. Namun, dalam psikologi klasik, ada konsep bernama habituation atau pembiasaan. Secara sederhana, otak kita dirancang secara evolusioner untuk mengabaikan hal-hal yang sudah sering kita lihat. Tujuannya agar kita bisa menghemat energi dan fokus pada ancaman baru di sekitar kita. Kalau kita makan menu yang sama tiga hari berturut-turut, kita pasti muak. Kalau kita mendengar lelucon yang sama dua kali, lucunya langsung menguap. Lalu, muncullah era platform video pendek. Tiba-tiba, aturan main psikologi ribuan tahun ini seolah dijungkirbalikkan. Jutaan orang membuat konten dengan template yang persis sama. Namun alih-alih muak, kita justru terus menantikan video berikutnya. Pasti ada sesuatu yang sedang diretas di dalam kepala kita.
Coba teman-teman ingat-ingat lagi. Saat sebuah tren sedang meledak, katakanlah tren transisi riasan wajah atau tarian viral, kita sudah tahu persis lagu apa yang akan diputar. Kita bahkan tahu di detik ke berapa ketukan bass-nya akan jatuh. Otak kita sudah memiliki peta jalan yang sangat jelas tentang apa yang akan terjadi di layar ponsel. Seharusnya, tidak ada lagi elemen kejutan. Dan tanpa kejutan, sistem penghargaan di otak biasanya tidak akan menyala. Tapi anehnya, ibu jari kita tidak juga menekan tombol keluar. Kenapa kita rela menonton lima puluh orang berbeda melakukan hal yang persis sama? Apakah otak kita tiba-tiba menjadi pemalas? Atau jangan-jangan, tanpa kita sadari, algoritma ini telah menemukan celah tersembunyi dalam sirkuit saraf kita? Sebuah celah rahasia di mana kebosanan dan rasa penasaran bisa hidup berdampingan secara harmonis.
Jawabannya ternyata bersembunyi di balik sebuah mekanisme canggih di otak kita yang bernama Reward Prediction Error atau RPE. Dalam neuroscience, dopamin sering disalahartikan sekadar sebagai hormon kebahagiaan. Padahal, fungsi utama dopamin adalah sebagai molekul antisipasi dan pembelajaran. Otak kita adalah mesin prediksi yang sangat terobsesi untuk menebak masa depan. Ketika kita melihat tren yang sedang viral, otak kita dengan cepat mengenali lagu atau template-nya. Hal ini menciptakan cognitive ease, yaitu kondisi di mana otak merasa nyaman dan aman karena tidak perlu membuang energi untuk mencerna informasi yang benar-benar baru. Namun, di sinilah letak kejeniusannya. Meski template-nya sama, orang yang melakukannya berbeda. Ekspresi wajahnya berbeda. Latar belakang kamarnya berbeda. Otak kita mengharapkan A, tapi ternyata mendapat A plus sedikit kejutan. Sedikit variasi di dalam sesuatu yang sangat familier ini menciptakan lonjakan dopamin yang masif. Kita sebenarnya tidak menonton untuk melihat hal baru. Kita menonton untuk melihat bagaimana hal yang sudah kita kenal dieksekusi dengan cara yang sedikit berbeda. Ditambah lagi dengan mere-exposure effect, sebuah fenomena psikologis di mana kita cenderung semakin menyukai sesuatu hanya karena kita sering terpapar olehnya. Kombinasi antara rasa familier yang hemat energi, ditambah mikro-kejutan dari kreator yang berbeda, menciptakan badai dopamin yang sempurna. Otak kita tidak sedang malas, ia hanya sedang berpesta.
Pada akhirnya, fenomena ini mengingatkan kita pada satu hal penting tentang rapuhnya menjadi manusia modern. Kita hidup di dunia yang bergerak terlalu cepat, sangat tidak pasti, penuh tuntutan, dan sering kali melelahkan mental kita. Secara tidak sadar, melihat sesuatu yang familier berulang kali memberikan kita rasa aman yang langka. Tren yang terus berulang itu bertindak seperti selimut hangat bagi otak kita yang lelah seharian. Kita tahu pasti apa yang akan terjadi di layar, dan kita terhibur oleh variasi-variasi kecil di dalamnya. Tentu, tidak ada yang salah dengan mencari sedikit kesenangan dan pelepasan melalui layar ponsel kita. Kita semua butuh jeda. Namun, dengan memahami sains di baliknya, kita mendapatkan kembali tongkat kendalinya. Kita menjadi sadar bahwa aplikasi ini memang dirancang secara keilmuan untuk membuai sistem antisipasi kita. Jadi, lain kali saat kita terjebak dalam putaran video viral di jam dua pagi, cobalah tersenyum. Beri tahu otak kita bahwa porsi pestanya sudah cukup untuk hari ini. Tarik napas yang panjang, letakkan ponselnya, dan biarkan pikiran kita beristirahat di dunia nyata yang tak kalah penuh dengan keajaiban.